>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Thursday, October 27, 2005

 

Montase

: sb

Dan bocah itu, aih, Nicholas,
menatap bulan yang seperti sampan,
yang membawamu ke tanah yang tak dijanjikan,
tak ke negeri Cina, atau ke Palembang,

atau ke suatu negeri di ujung peta,
sebelum ia terlelap di buaian malam.
Sementara kau yang menyuruk di bawah tangga,
mengendusi jejak-jejak ia (aku, atau siapa pun aku),

yang lenyap dalam gelap pada pukul sembilan kurang,
selepas rindu gugur berderai-derai
dan orang-orang bubar
dari khusyuk tarawih,

terkenang pada masa-masa (semacam memutar
gambar yang terekam berurutan dalam film)
yang membuncahkan: keriuhan yang
membuatmu sesepi subuh di rumah sebelah pura itu,

lantas hanyut dalam deras
kata-kata bahasa Inggris
dalam lafal yang tak fasih,
dan lainnya, dan lainnya, berkaitan.

Malam itu, kau dan mereka
berdiang mengitari api,
mencampak yang gigil, mengupas yang beku.
Tapi hangat hanya singgah sebentar,

seperti kapal pesiar. Dan kita, lalu,
didesak sesal: mengapa pintu,
waktu itu, menghalaunya.
“Akankah ia (aku, atau siapa pun aku) kembali,” tanyamu

kepada pintu, juga kepada
bocah itu, aih, Nicholas,
yang tak tahu apa-apa, selain sebaris lagu
Burung Kakatua yang ia nyanyikan terpatah-patah.

Sebagaimana suatu hari, barangkali,
bocah itu, aih, Nicholas,
yang tak akan lagi ingat orang-orang yang
bersama dirinya di dalam album foto lama,

dan akan bertanya-tanya ‘siapa’,
dan masih akan tidak paham,
kita pun tak pernah paham, sebenarnya,
mengapa ia datang, mengapa ia hilang.


Jogja, 25 Oktober ‘05

Monday, September 05, 2005

 

Di Ambang Pintu

Di ambang pintu ia berhenti. Setitik nyala
dilingkari warna pudar mencegat derapnya.
Lantas ia menoleh pada satu satu suara di balik kegelapan.
Semacam amsal yang bergemerincing serupa bunyi lonceng.

"Hidup bagaikan menyalakan
sebatang korek api di tengah topan."

Ia mustahil kembali.
Masa tak pernah kembali.
Ia tahu, ia akan mati.
Tapi tidak di hari ini.

"Apa yang akan terjadi, terjadilah."

Ia berteriak (tangannya membentuk corong di mulutnya). Menantang.
Udara bereaksi tanpa gamang.
Tapi malam menelan gemanya.
Lalu senyap. Tak ada lagi dialog.

Pada banyak malam (ia mengenang),
gigil barangkali tak sebengis kini.
Ada hangat yang menjalar dari lekapan lidah yang lezat.
Juga bisikan lembut selamat tidur yang melangutkan.

"Tapi…," gumamnya. "Itu dulu."

Demi masa,
ia akan berlari. Ia akan mencari.
Berburu di padang rumput, di alas-alas,
di sungai-sungai mahapanjang yang berarus buas.

Di ambang pintu ia berhenti.
Sesuatu menahan geraknya.


Jogjakarta, tepat 25 tahun kemudian.
(Umurku berkurang banyak, ternyata.)

Friday, May 06, 2005

 

Testimoni

Malam ini, Sayangku,
gelap akan membalut tubuhmu yang telanjang,
sebab bulan telah sunyi
pada hitungan ketiga senja tadi.

Tak akan ada gemintang yang bertabur.
Juga cahaya tirus mercusuar,
sebab bandar pun telah tumpas
sepeninggal Khidir.

Hanya ada suara parau yang mengapung
lewat hembusan pengatur suhu. Bercerita
tentang luka. Juga dosa. Juga abu-abu. Meski
abu-abu adalah gamang yang dibisikkan iblis, Sayangku.

Pernah ada, dahulu, seseorang datang
bersama burung gagak dan berkata:
“Yang mendapat apa-apa
sebenarnya tak pernah mendapat apa-apa.”

Aku bayangkan Rahwana yang menodai Sita
pada didih di titik 100° Celcius.
Juga persetubuhan Trotsky dengan Frida
di antara serakan lukisan dan ideologi usang.

Barangkali pernah ada kisah pembakaran Sita,
atau pertaubatan di ruang pengakuan dosa.
Tapi yang terpatri pada ingatan, Sayangku,
akan kekal, kecuali Maut memupusnya.

Apakah yang setia? Kita tak pernah tahu, Sayangku.
Tapi orang yang datang
bersama burung gagak itu berkata:
“Yang tak terbelah.”

Barangkali ia salah. Barangkali ia benar. Tapi ia,
sebagaimana kau, Sayangku, telah bersaksi di hadapan
arca orang suci, demi hidup yang berputar serupa cakra,
sebelum ia dan Maut berangkat ke suatu tempat entah.

Jogja, Mei ‘05

Sunday, April 24, 2005

 

April

Ini penghabisan musim, kau berkata.

Gerimis akan habis menimpa bubungan,
mengikis apa yang belum habis.
Angin akan memutar haluan,
berbalik ke arah yang dituju para saudagar.

Sungai akan memuaskan dirinya dengan arus terakhir.
Batu-batu akan hilang sebentar.
Barangkali ikan pun ikut hingar,
bertamasya sebelum perpisahan.

Ini pula permulaan musim, kau berkata.

Matahari akan leluasa singgah di bubungan,
mengupas luka yang belum tanggal.
Tanah akan lekang.
Hijau pun hilang dalam cemas.

Tapi dini hari,
dingin akan menikam pori-pori.
Cela pun pupus
dalam ritus, ternyata.

Dan kita masih akan melaluinya dengan baik, kau berkata.

Dari bubungan, kita melihat waktu berkelebat.


Jogja, di antara 21-22 April 2005

Wednesday, April 06, 2005

 

Durga

sebuah variasi atas kitab Kidung Sudamala

Sejenak,
perempuan itu mencucurkan air mata
demi melihat wajahnya yang buruk.
Ia telah dikutuk.

Lalu ia bersila. Ia bertapa.

Sejenak lalu,
ialah Uma, kekasih Siwa, laki-laki yang
menguasai cermin Tuhan yang lain.
Uma, sang pemahat luka.

Kini semua selesai. Ia telah terusir dari kahyangan.
Ialah penguasa Setra Gandamayit,
penguasa kegelapan yang
sehitam dosa.

Takkan ada bisa yang menahanku, kecuali
cintaku.
(Ia merapal lalu mengheningkan dirinya.)

Tapi tangan-tangannya
menebar was-was, mala,
ke segala penjuru. Pepohonan
menguning. Azab meresap.

Di singgasananya, laki-laki itu, Siwa, berkata:
“Sudikah diriku menerima perempuan yang tak setia?”

Di bawah kakinya,
disaksikannya amuk perempuan itu.
Tapi laki-laki itu seperti hendak berkata:
“Kenyataan takkan bisa disembunyikan amarah.”

Perempuan itu terus mengamuk, hingga
singgasana laki-laki itu seperti hendak runtuh. Tapi
ia masih berdiam, meski
sesungguhnya ia tak menikmati kutukannya.

Adakah yang pekat kembali suci?
Pada kesempatan kedua, barangkali
semuanya menjadi putih. Suci serupa melati.
Seperti Durga yang diruwat Sadewa.

“Tapi takkan ada kesempatan ketiga,” kata laki-laki itu
diringi isak sang Betari.

Adakah yang pekat kembali suci?
Kini gunungan telah runduk.
Ia terbebas dari kutuk,
serupa terlahir kembali.

Yang hina adalah waktu yang tak mengerti.
Seperti lakon yang terkisah,
setiap akhir adalah mula. Hingga
takkan ada lagi cela, dan rentang menghilang.

jogja, 6 april ‘05

Monday, March 07, 2005

 

Dilema Hermes

Angin yang menyusuri polis-polis telah tiba di Olympus. Bersamanya,
Hermes, dengan paras ragu, tiba di gerbang segala mungkin.
Disaksikannya para dewa tengah bercengkerama, barangkali seraya
menyimpan sebilah dendam di balik senyumnya dan menunggu
lengah lewat untuk menghujamkannya.

Angin yang mengiringinya telah berangkat entah.
Ke Athena, barangkali.

Ia, Hermes, masih terpaku. Sesuatu mestikah digamblangkan
seluruhnya? Tapi aku tiada berdusta, ia berkata.
Ia telah berjanji akan memerikan.

Lalu seorang dewa berteriak ke arahnya:
"Lekaslah! Zeus telah lama menunggu."

Dengan langkah ragu, ia bergegas menuju singgasana. Tiada Hera,
tiada dewa-dewa. Hanya ia dengan Zeus berhadapan tiada tabir.
(Hermes menjura)

Ditanggalkannya seluruh ragu yang mengurungnya. Tapi,
di ruangan itu percakapan begitu sepi. Beku sedingin pucuk Olympus.
Kata-katanya hanya membentur atap, lalu dinding, lalu tiang-tiang.
Dan Zeus seolah takkan meminta.

"Enkau berdusta, Hermes," kata Zeus tiba-tiba.
"Engkau berdusta."

Percakapan hening kembali.


jogja, 8 maret 2005

Monday, February 07, 2005

 

Paragraf Ingatan yang Patah-patah

:setelah menonton film "The Butterfly Effect"

Seperti sebuah film yang patah-patah, demikianlah aku mengenang senjakala singgah di tubuhmu yang ranum. Sebuah jurnal yang engkau sodorkan, membayangkan liur anjing yang pernah melekat di keningmu. Dalam ingat, sungguh dalam ingat.

Kekasihku, sungguh aku mual.

Seandainya semua kenangan kekal dalam ingat, aku ingin lupa mendepaknya. Meski aku tetap tak ingin lupa mengingat, kita pernah berjumpa pada abad yang tak tercatat. Dan di luar semua hal, seperti perjuangan ingatan melawan lupa*, demikianlah aku mencoba mencintaimu. Hingga entah, kekasihku. Hingga entah.


jogja, februari 2005
*mengutip Kundera

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?