>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Monday, December 20, 2004

 

Di Semarang

Di kota ini sebuah mata angin tetaplah berarti.
Arah melekat pada baju setiap orang. Di kota ini
para saudagar pernah berkata, “Koin-koin emas dan perak
berdencing di setiap sudut bandar.” (Wajah mereka berbinar saat mengatakannya.)

Di satu penjuru kota ini lay see selalu mengundang decak.
Setiap kali kubuka jendela penginapan, inderaku yang lamur
disarati oleh riuh sauh yang jatuh, guci-guci keramik dan sutra,
hiruk kota, dan ia - yang menikam dan meminta.

(Konon, ia berasal dari sebuah negeri yang jauh di utara,
tanah lahir laksamana yang membangun kota ini.)


Tempias ombak yang menempuh perahu yang dikayuhnya
membuatnya seperti berbaju bianglala.
Ia, lalu, menyakatkan perahunya
pada bau mesiu penjaga bandar.

Kepada para penjaga yang menawannya
ia bertanya, “Apakah bapakku, kakekku
pernah singgah di bandar ini? Pernahkah mereka
menitipkan sesuatu?”
Nadanya tak berharap jawab,

tapi wajahnya seperti sebuah
kota lama yang ditinggalkan,
wanginya seperti jejak Fatahillah ke Barat
yang terhapus: suram dan hampir tak tercium.

Di kota ini, pada suatu ketika sebuah lampion terbakar oleh suluh yang menari.
Kelenteng dengan genting merah tua, bangunan indies, dan wajah kami yang terbelah,
tenggelam dan mengendap seperti kapal-kapal niaga
yang kandas di lepas bandar.

Seperti perasaanku kepadanya yang memudar.

Tapi setiap kali malam jatuh,
aku selalu teringat kata-katanya:
”Yang terindah adalah gemintang yang
bertebar di langit Desember, dan bulan lumer.”


- Horison
mengangkangi kapal-kapal
yang lalu-lalang
dan Semarang.

jogja, 2004
Comments: Post a Comment

<< Home

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?