>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Monday, December 20, 2004

 

Sirine Itu Terus Meraung

Setengah jam lalu pada waktu yang memaku gelap pada terang,
seseorang terbunuh. Dua tikaman pada ulu hati seperti dua kiamat
yang datang bersamaan.

Seseorang mati,
seseorang lari,
seseorang menelepon polisi,

enam orang di ruangan itu meraung.

Setengah jam lalu orang itu berkata kepada Maut:
“Datanglah esok pagi. Ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini.”

Tapi Maut menjawab dengan angkuh:
“Aku datang karena diundang. Bukan olehmu, tapi oleh orang yang menginginkan hitam.

Semacam dosa atau entah.”

Dua tikaman pada ulu hati seperti dua kiamat
yang datang bersamaan.


Seandainya setiap kilau selalu selalu kekal.
Seandainya setiap nubuat selalu jatuh.
Barangkali kita bisa bersembunyi
dari takut….

Setengah jam kemudian sirine itu terus meraung,
seperti tangis kami yang bergaung. Geletar yang
merambat seperti satu ajal lagi yang mendekat.
Malam yang terlahir tanpa nama, tapi akan selalu diingat.

Dua tikaman pada ulu hati seperti dua kiamat
yang datang bersamaan.


jogja, desember 2004

Comments:
abis membunuh sapa?:P
 
Post a Comment

<< Home

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?