>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Monday, December 20, 2004

 

unfinished sonnets

I
pada permulaan waktu
aku telah mengenalmu
namamu tergurat pada partikel es, pada debu, pada iklim yang tak menentu,
pada telapak tanganku

aku adalah es yang membekukan batu-batu
aku adalah debu yang menimpa tanah-tanah, gunung-gunung, berpindah-pindah
mencarimu
aku adalah iklim yang memberimu hangat yang sesat dan dingin yang menggoda

aku mencair, meresap, dan mengendap di seluruh kisahmu

aku tak pernah mati untuk mencintaimu
aku hanya berganti rupa agar menyatu denganmu, menyurup ke dalam ragamu
aku adalah udara yang engkau hirup dan air yang membasuh lukamu
aku menyelimutimu dari belaian badai, jahatnya malam

pada permulaan waktu
aku telah mencintaimu
seperti terang yang setia mengawani pijar
seperti lembab yang selalu mengawali rinai gerimis

II
selarik sajak tertulis pada granit pejal muntahan gunung
menyebut namamu berkali-kali
aku terpukau desah waktu saat itu
terhanyut, akhirnya terdampar di sebuah tanah asing

kilatan cahaya kebiru-biruan kulihat di utara, di sekitar waluku
lalu jingga, lalu aku silau
aku berdiri di atas loteng, sementara air bah telah mengepungku
dan nuh tak juga datang

kuinginkan dirimu pada zaman yang tak setia
menjerembaku dari tubir surgamu

III
sebilah parang masih kugenggam, erat
udara yang kesepian mengaratinya
aku baru saja kembali dari perang yang menjemukan, sia-sia
rautmu terlintas ketika sebuah anak panah dari busur yang lapar hinggap di bahuku
rautmu menghentikan waktu, seperti sebuah batu besar yang menghentikan roda pedati
memusnahkan nyeri yang kelaparan

engkau adalah satu-satunya alasanku kembali dari perang yang menjemukan, sia-sia

IV
mencintaimu seperti merasakan air yang mengalir pada parit kerongkonganku setelah
kemarau yang kesekian
menyisir bebatu, menghanyutkan rerumput kering,
membasahi tanah yang lekang, dan memejamkan dahaga

mencintaimu seperti mendengarkan angin yang mendesah, membisiki dedaun,
lalu memberati pelupuk
memecahkan sebongkah gelisah yang mengendap di sudut waktu

mencintaimu seperti melekapkan lidahku pada tepi swargaloka
sebuah rasa yang tak pernah kukenyam menari-nari di ujungnya
mengasyikan, sekaligus membekukan kata-kata

V
sebingkai mentari tengah menjerang siang
aku berteduh di bawah wajahmu yang lindap
lamat-lamat angin mendendangkan nada yang asing
lalu kita berdansa mengikuti irama
lalu saling memagut
dan enggan memecahnya

engkau mendinginkan api yang terlontar dari korona
malam ini, engkau menyerap cahaya bulan yang memancar di atap rumah
lalu engkau pun menghidangkan merkurius di bola matamu

VI
aku mencintaimu lagi setelah aku terjerembab dari tubir kawah keraguan dan engkau
memanduku pulang dari sesatnya padang belerang
aku mencintaimu lagi setelah aku melihatmu mematung dikawani bebayang ilalang
setinggi dudukmu pada ujung penantianmu
aku mencintaimu lagi setelah aku menyadari bahwa wangimu adalah satu-satunya bau
yang dapat aku cium
aku mencintaimu lagi setelah aku tahu bahwa darahmu telah menyusup ke nadiku,
mengalir ke sekujur tubuh dan pikiranku

aku mencintaimu lagi, setelah aku tahu engkau mencintaiku

2004-....


Comments:
Sonnets ini slalu mengantarkanku untuk mengawali permulaan hari. Menemani dan menghibur kejenuhanku.E...ada 2 puisi yang belum kucopy, minta permission-nya ya? Novelmu apa judulnya? ....still.
 
Thanks. Kalau mo ngopy, ngopy aja. Ga harus bayar koq:P

Novelnya masih rahasia. Tunggu tanggal mainnya aja ya, hehehe...

Btw, kamu ikut friendster ga?
 
Post a Comment

<< Home

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?