>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Sunday, January 23, 2005

 

26 Desember 2004

Pada paruh waktu, di negeri ini
ada sebuah rumah
untuk singgah
saat hari lantak,

juga orang-orang yang, meski dibalut luka,
akan datang berseri-seri, menyalami,
mengajak ke ruang makan, dan
selalu menunggu saat hari rindu.

Tapi di Aceh, luka
seperti enggan hengkang.
Air mata serupa rinai
yang tak kunjung reda,

meski memang bukan air mata itu yang
menghanyutkan tubuh-tubuh. Pagi itu,
ketukan Tuhan membuat tanah terbelah.
Jari-Nya yang menjentik biru laut,

membuat gelombang beriak melintasi tapal batas. Apa
yang tercipta menjadi tak terasa. Apa
yang terangkum menjadi terberai. Pagi itu,
sebuah peradaban nyaris binasa.

Orang-orang yang tak menyaksikan langsung
kengerian tersebut berseru di depan pesawat televisi:
“Ini seperti kisah-kisah dalam kitab suci!
Nuh semestinya muncul dengan bahteranya.”

Tapi Nuh tak pernah muncul. Pagi itu,
tinggal suara patah-patah seorang perempuan
dengan isak rampak di atas sebuah fondasi rumah
yang pernah berdiri: “Nak…, nak..., engkau dimana?”

Yang menjawab hanya senyap.
Mayat-mayat selalu senyap.
Perempuan itu tak menahu
ke mana air bah membawa tubuh anaknya.

Perempuan itu, lalu, ikut senyap.
Ia terkucil dalam duka.
Pagi yang sempurna
hanya terbit sekali dalam ingatannya.

Barangkali kiamat terjadi di hari Jumat.
Tapi Minggu pagi itu, orang-orang yang tersisa
telah menyaksikan sebuah episode terakhir dari hari
yang tercipta setelah bintang pecah.

“Kita memang hidup di bumi yang tak sempurna,” kata seseorang yang
duduk di kedai kopi setelah peristiwa itu lewat.
“Apa yang terbangun selama ratusan tahun, musnah
dalam hitungan menit.” (Ia lalu meneguk kopinya yang telah dingin.)

Negeri ini tak pernah takluk. Tapi pada air bah,
orang-orang tunduk. Kerutan pada dahi orang-orang yang
duduk di kedai kopi itu, seperti alir di sebuah krueng yang
diukir oleh kelopak-kelopak jeumpa yang hanyut.

Kita memang selalu menginginkan kekal. Tapi waktu pun
tak pernah kekal, sebenarnya. Waktu, barangkali, hanya terlahir
di dalam ruang yang sementara. Sebuah ruang yang
juga hanyut dalam deras bah pada Minggu pagi itu.


Banda Aceh-Jogjakarta, Januari 2005

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?