>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Monday, March 07, 2005

 

Dilema Hermes

Angin yang menyusuri polis-polis telah tiba di Olympus. Bersamanya,
Hermes, dengan paras ragu, tiba di gerbang segala mungkin.
Disaksikannya para dewa tengah bercengkerama, barangkali seraya
menyimpan sebilah dendam di balik senyumnya dan menunggu
lengah lewat untuk menghujamkannya.

Angin yang mengiringinya telah berangkat entah.
Ke Athena, barangkali.

Ia, Hermes, masih terpaku. Sesuatu mestikah digamblangkan
seluruhnya? Tapi aku tiada berdusta, ia berkata.
Ia telah berjanji akan memerikan.

Lalu seorang dewa berteriak ke arahnya:
"Lekaslah! Zeus telah lama menunggu."

Dengan langkah ragu, ia bergegas menuju singgasana. Tiada Hera,
tiada dewa-dewa. Hanya ia dengan Zeus berhadapan tiada tabir.
(Hermes menjura)

Ditanggalkannya seluruh ragu yang mengurungnya. Tapi,
di ruangan itu percakapan begitu sepi. Beku sedingin pucuk Olympus.
Kata-katanya hanya membentur atap, lalu dinding, lalu tiang-tiang.
Dan Zeus seolah takkan meminta.

"Enkau berdusta, Hermes," kata Zeus tiba-tiba.
"Engkau berdusta."

Percakapan hening kembali.


jogja, 8 maret 2005

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?