>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Sunday, April 24, 2005

 

April

Ini penghabisan musim, kau berkata.

Gerimis akan habis menimpa bubungan,
mengikis apa yang belum habis.
Angin akan memutar haluan,
berbalik ke arah yang dituju para saudagar.

Sungai akan memuaskan dirinya dengan arus terakhir.
Batu-batu akan hilang sebentar.
Barangkali ikan pun ikut hingar,
bertamasya sebelum perpisahan.

Ini pula permulaan musim, kau berkata.

Matahari akan leluasa singgah di bubungan,
mengupas luka yang belum tanggal.
Tanah akan lekang.
Hijau pun hilang dalam cemas.

Tapi dini hari,
dingin akan menikam pori-pori.
Cela pun pupus
dalam ritus, ternyata.

Dan kita masih akan melaluinya dengan baik, kau berkata.

Dari bubungan, kita melihat waktu berkelebat.


Jogja, di antara 21-22 April 2005

Wednesday, April 06, 2005

 

Durga

sebuah variasi atas kitab Kidung Sudamala

Sejenak,
perempuan itu mencucurkan air mata
demi melihat wajahnya yang buruk.
Ia telah dikutuk.

Lalu ia bersila. Ia bertapa.

Sejenak lalu,
ialah Uma, kekasih Siwa, laki-laki yang
menguasai cermin Tuhan yang lain.
Uma, sang pemahat luka.

Kini semua selesai. Ia telah terusir dari kahyangan.
Ialah penguasa Setra Gandamayit,
penguasa kegelapan yang
sehitam dosa.

Takkan ada bisa yang menahanku, kecuali
cintaku.
(Ia merapal lalu mengheningkan dirinya.)

Tapi tangan-tangannya
menebar was-was, mala,
ke segala penjuru. Pepohonan
menguning. Azab meresap.

Di singgasananya, laki-laki itu, Siwa, berkata:
“Sudikah diriku menerima perempuan yang tak setia?”

Di bawah kakinya,
disaksikannya amuk perempuan itu.
Tapi laki-laki itu seperti hendak berkata:
“Kenyataan takkan bisa disembunyikan amarah.”

Perempuan itu terus mengamuk, hingga
singgasana laki-laki itu seperti hendak runtuh. Tapi
ia masih berdiam, meski
sesungguhnya ia tak menikmati kutukannya.

Adakah yang pekat kembali suci?
Pada kesempatan kedua, barangkali
semuanya menjadi putih. Suci serupa melati.
Seperti Durga yang diruwat Sadewa.

“Tapi takkan ada kesempatan ketiga,” kata laki-laki itu
diringi isak sang Betari.

Adakah yang pekat kembali suci?
Kini gunungan telah runduk.
Ia terbebas dari kutuk,
serupa terlahir kembali.

Yang hina adalah waktu yang tak mengerti.
Seperti lakon yang terkisah,
setiap akhir adalah mula. Hingga
takkan ada lagi cela, dan rentang menghilang.

jogja, 6 april ‘05

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?