>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Friday, May 06, 2005

 

Testimoni

Malam ini, Sayangku,
gelap akan membalut tubuhmu yang telanjang,
sebab bulan telah sunyi
pada hitungan ketiga senja tadi.

Tak akan ada gemintang yang bertabur.
Juga cahaya tirus mercusuar,
sebab bandar pun telah tumpas
sepeninggal Khidir.

Hanya ada suara parau yang mengapung
lewat hembusan pengatur suhu. Bercerita
tentang luka. Juga dosa. Juga abu-abu. Meski
abu-abu adalah gamang yang dibisikkan iblis, Sayangku.

Pernah ada, dahulu, seseorang datang
bersama burung gagak dan berkata:
“Yang mendapat apa-apa
sebenarnya tak pernah mendapat apa-apa.”

Aku bayangkan Rahwana yang menodai Sita
pada didih di titik 100° Celcius.
Juga persetubuhan Trotsky dengan Frida
di antara serakan lukisan dan ideologi usang.

Barangkali pernah ada kisah pembakaran Sita,
atau pertaubatan di ruang pengakuan dosa.
Tapi yang terpatri pada ingatan, Sayangku,
akan kekal, kecuali Maut memupusnya.

Apakah yang setia? Kita tak pernah tahu, Sayangku.
Tapi orang yang datang
bersama burung gagak itu berkata:
“Yang tak terbelah.”

Barangkali ia salah. Barangkali ia benar. Tapi ia,
sebagaimana kau, Sayangku, telah bersaksi di hadapan
arca orang suci, demi hidup yang berputar serupa cakra,
sebelum ia dan Maut berangkat ke suatu tempat entah.

Jogja, Mei ‘05

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?