>>>sabaksajak

a poem in its becoming is a world....

Monday, September 05, 2005

 

Di Ambang Pintu

Di ambang pintu ia berhenti. Setitik nyala
dilingkari warna pudar mencegat derapnya.
Lantas ia menoleh pada satu satu suara di balik kegelapan.
Semacam amsal yang bergemerincing serupa bunyi lonceng.

"Hidup bagaikan menyalakan
sebatang korek api di tengah topan."

Ia mustahil kembali.
Masa tak pernah kembali.
Ia tahu, ia akan mati.
Tapi tidak di hari ini.

"Apa yang akan terjadi, terjadilah."

Ia berteriak (tangannya membentuk corong di mulutnya). Menantang.
Udara bereaksi tanpa gamang.
Tapi malam menelan gemanya.
Lalu senyap. Tak ada lagi dialog.

Pada banyak malam (ia mengenang),
gigil barangkali tak sebengis kini.
Ada hangat yang menjalar dari lekapan lidah yang lezat.
Juga bisikan lembut selamat tidur yang melangutkan.

"Tapiā€¦," gumamnya. "Itu dulu."

Demi masa,
ia akan berlari. Ia akan mencari.
Berburu di padang rumput, di alas-alas,
di sungai-sungai mahapanjang yang berarus buas.

Di ambang pintu ia berhenti.
Sesuatu menahan geraknya.


Jogjakarta, tepat 25 tahun kemudian.
(Umurku berkurang banyak, ternyata.)

Archives

November 2004   December 2004   January 2005   February 2005   March 2005   April 2005   May 2005   September 2005   October 2005  

This page is powered by Blogger. Isn't yours?